Spiga

Memahami Isra’ Mi’raj

Dr. M. Quraish Shihab dalam bukunya “Membumikan Al Qur’an” mencoba memahami Peristiwa Isra’ Mi’raj yang kita percayai kebenarannya berdasarkan bukti-bukti ilmiah yang dikemukakan oleh Al-Quran, menerangkan bahwa ada dua hal berkaitan dengan hal ini :

Pertama, kenyataan ilmiah menunjukkan bahwa setiap sistem gerak mempunyai perhitungan waktu yang berbeda dengan sistem gerak yang lain. Benda padat membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan suara. Suara pun membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan dengan cahaya. Hal ini mengantarkan para ilmuwan, filosof, dan agamawan untuk berkesimpulan bahwa, pada akhirnya, ada sesuatu yang tidak membutuhkan waktu untuk mencapai sasaran apa pun yang dikehendaki-Nya. Sesuatu itulah yang kita namakan Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa.


Kedua, segala sesuatu, menurut ilmuwan, juga menurut Al-Quran, mempunyai sebab-sebab. Tetapi, apakah sebab-sebab tersebut yang mewujudkan sesuatu itu? Menurut ilmuwan, tidak. Demikian juga menurut Al-Quran. Apa yang diketahui oleh ilmuwan secara pasti hanyalah sebab yang mendahului atau berbarengan dengan terjadinya sesuatu. Bila dinyatakan bahwa sebab itulah yang mewujudkan dan menciptakan sesuatu, muncul sederet keberatan ilmiah dan filosofis.

Bahwa sebab mendahului sesuatu, itu benar. Namun kedahuluan ini tidaklah dapat dijadikan dasar bahwa ialah yang mewujudkannya. "Cahaya yang terlihat sebelum terdengar suatu dentuman meriam bukanlah penyebab suara tersebut dan bukan pula penyebab telontarnya peluru," kata David Hume. "Ayam yang selalu berkokok sebelum terbit fajar bukanlah penyebab terbitnya fajar," kata Al-Ghazali jauh sebelum David Hume lahir. "Bergeraknya sesuatu dari A ke B, kemudian dari B ke C, dan dari C ke D, tidaklah dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa pergerakannya dari B ke C adalah akibat pergerakannya dari A ke B," demikian kata Isaac Newton, sang penemu gaya gravitasi.

Kalau demikian, apa yang dinamakan hukum-hukum alam tiada lain kecuali "a summary o f statistical averages" (ikhtisar dari rerata statistik). Sehingga, sebagaimana dinyatakan oleh Pierce, ahli ilmu alam, apa yang kita namakan "kebetulan" dewasa ini, adalah mungkin merupakan suatu proses terjadinya suatu kebiasaan atau hukum alam. Bahkan Einstein, lebih tegas lagi, menyatakan bahwa semua apa yang terjadi diwujudkan oleh "superior reasoning power" (kekuatan nalar yang superior). Atau, menurut bahasa Al-Quran, "Al-'Aziz Al-'Alim", Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui. Inilah yang ditegaskan oleh Tuhan dalam surat pengantar peristiwa Isra' dan Mi'raj itu dengan firman-Nya:

"Kepada Allah saja tunduk segala apa yang di langit dan di bumi, termasuk binatang-binatang melata, juga malaikat, sedangkan mereka tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang berkuasa atas mereka dan mereka melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka) (QS 16:49-50).

Pengantar berikutnya yang Tuhan berikan adalah: Janganlah meminta untuk tergesa-gesa. Sayangnya, manusia bertabiat tergesa-gesa, seperti ditegaskan Tuhan ketika menceritakan peristiwa Isra' ini, Adalah manusia bertabiat tergesa-gesa (QS 17:11). Ketergesa-gesaan inilah yang antara lain menjadikannya tidak dapat membedakan antara: (a) yang mustahil menurut akal dengan yang mustahil menurut kebiasaan, (b) yang bertentangan dengan akal dengan yang tidak atau belum dimengerti oleh akal, dan (c) yang rasional dan irasional dengan yang suprarasional.

Dari segi lain, dalam kumpulan ayat-ayat yang mengantarkan uraian Al-Quran tentang peristiwa Isra' dan Mi'raj ini, dalam surat Isra' sendiri, berulang kali ditegaskan tentang keterbatasan pengetahuan manusia serta sikap yang harus diambilnya menyangkut keterbatasan tersebut. Simaklah ayat-ayat berikut:

Dia (Allah) menciptakan apa-apa (makhluk) yang kamu tidak mengetahuinya (QS 16:8);

Sesungguhnya Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui (QS 16:74); dan

Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan kecuali sedikit (QS 17:85); dan banyak lagi lainnya. Itulah sebabnya, ditegaskan oleh Allah dengan firman-Nya:

Dan janganlah kamu mengambil satu sikap (baik berupa ucapan maupun tindakan) yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentang hal tersebut; karena sesungguhnya pendengaran, mata, dan hati, kesemuanya itu kelak akan dimintai pertanggungjawaban (QS 17:36).

Apa yang ditegaskan oleh Al-Quran tentang keterbatasan pengetahuan manusia ini diakui oleh para ilmuwan pada abad ke-20. Schwart, seorang pakar matematika kenamaan Prancis, menyatakan: "Fisika abad ke-19 berbangga diri dengan kemampuannya menghakimi segenap problem kehidupan, bahkan sampai kepada sajak pun. Sedangkan fisika abad ke-20 ini yakin benar bahwa ia tidak sepenuhnya tahu segalanya, walaupun yang disebut materi sekalipun." Sementara itu, teori Black Holes menyatakan bahwa "pengetahuan manusia tentang alam hanyalah mencapai 3% saja, sedang 97% selebihnya di luar kemampuan manusia."

Kalau demikian, seandainya, sekali lagi seandainya, pengetahuan seseorang belum atau tidak sampai pada pemahaman secara ilmiah atas peristiwa Isra' dan Mi'raj ini; kalau betul demikian adanya dan sampai saat ini masih juga demikian, maka tentunya usaha atau tuntutan untuk membuktikannya secara "ilmiah" menjadi tidak ilmiah lagi. Ini tampak semakin jelas jika diingat bahwa asas filosofis dari ilmu pengetahuan adalah trial and error, yakni observasi dan eksperimentasi terhadap fenomena-fenomena alam yang berlaku di setiap tempat dan waktu, oleh siapa saja. Padahal, peristiwa Isra' dan Mi'raj hanya terjadi sekali saja. Artinya, terhadapnya tidak dapat dicoba, diamati dan dilakukan eksperimentasi.

Itulah sebabnya mengapa Kierkegaard, tokoh eksistensialisme, menyatakan: "Seseorang harus percaya bukan karena ia tahu, tetapi karena ia tidak tahu." Dan itu pula sebabnya, mengapa Immanuel Kant berkata: "Saya terpaksa menghentikan penyelidikan ilmiah demi menyediakan waktu bagi hatiku untuk percaya." Dan itu pulalah sebabnya mengapa "oleh-oleh" yang dibawa Rasul dari perjalanan Isra' dan Mi'raj ini adalah kewajiban ; sebab merupakan sarana terpenting guna menyucikan jiwa dan memelihara ruhani.

Kita percaya kepada Isra' dan Mi'raj, karena tiada perbedaan antara peristiwa yang terjadi sekali dan peristiwa yang terjadi berulang kali selama semua itu diciptakan serta berada di bawah kekuasaan dan pengaturan Tuhan Yang Mahaesa.

Oleh karena itu, pendekatan yang paling tepat untuk memahaminya adalah pendekatan imaniy. Inilah yang ditempuh oleh Abu Bakar As Shiddiq, seperti tergambar dalam ucapannya: "Apabila Muhammad yang memberitakannya, pasti benarlah adanya”.

Baca Selengkapnya ...

Penafsiran Isra’ Mi’raj

Peristiwa Isra’ Miraj telah menimbulkan berbagai penafsiran sampai dengan saat ini. Perbedaan penafsiran mengenai hal ini terjadi, disebabkan oleh perbedaan dalil masing-masing dan terutama berasal dari perbedaan persepsi dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis, yang dalam hal ini mengenai Isra' Mi'raj. Dan dalil-dalil yang kuat yang berlawanan pun lalu ditakwil dengan hujah atau argumentasi masing-masing secara aqli.


Menurut KH. Mustofa Bisri, ada 3 perbedaan pendapat mengenai hal ini yaitu :

1. Pendapat yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw ber-Isra'-Mi'raj hanya dengan roh beliau saja. Sayyidatina Aisyah r.a. misalnya, berkata: 'Demi Allah, jasad Rasulullah Saw. tidak meninggalkan tempat, tapi beliau dinaikkan dengan rohnya (saja).' Sementara al-Hasan mengatakan: 'Pengalaman Isra' Mi'raj itu terjadi waktu tidur, merupakan mimpi Rasulullah Saw.'

2.Kebanyakan ulama salaf dan khalaf berpendapat, peristiwa besar itu dialami Rasulullah dengan roh dan jasad beliau.

3.Ada pula kelompok yang berpendapat bahwa Isra' Nabi Saw. dengan jasad beliau dan roh (berdasarkan firman Allah di awal surah Al-Israa). Sedangkan Mi'rajnya dengan roh saja.

Seperti biasa, perbedaan itu semua terjadi disebabkan oleh perbedaan dalil masing-masing dan terutama berasal dari perbedaan persepsi dan pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis, yang dalam hal ini mengenai Isra' Mi'raj. Dan dalil-dalil yang kuat yang berlawanan pun lalu ditakwil dengan hujah atau argumentasi masing-masing secara aqli.

Pendapat pertama (a), misalnya mengatakan bahwa dalam hadis-hadis tentang peristiwa Isra' Mi'raj itu ada disebut-sebut mengenai malaikat Jibril dan Mikail yang membelah dada Rasulullah Saw. sebelum di-Isra'-Mi'raj-kan, lalu isi dada dicuci dengan air Zamzam, kemudian diisi dengan sifat-sifat alhilm (lembah-manah = pesantun), ilmu, dan hikmah. Nah, hal ini memperkuat bahwa peristiwa itu hanya dialami Rasulullah dengan rohnya saja. Masak Jibril dan Mikail yang malaikat membedah jisim Nabi Saw., membersihkan memakai air Zamzam dan isi dada beliau dengan alhilm, ilmu, dan hikmah?!

Itu semua hanya bisa dibayangkan terjadi secara ruhi atau mimpi saja tidak dengan jasad.

Sedangkan mereka yang berpendapat bahwa peristiwa itu dialami Nabi Saw. dengan roh dan jasad (b), di sampinng berdalil dengan beberapa hadis Isra' Mi'raj yang sudah populer itu, mengatakan bahwa kata "abdihi" dalam awal surah Al-Israa, itu merupakah penegasan bahwa Nabi Saw. di-Isra'-kan dengan roh dan jasad. Di samping itu, seandainya peristiwa itu hanya dialami Nabi Saw. dengan roh beliau saja atau hanya terjadi dalam mimpi beliau saja, lalu apa anehnya? Orang kebanyakan pun bisa bermimpi yang mungkin lebih tidak masuk akal lagi. Padahal seperti diketahui, peristiwa Isra' Mi'raj itu ketika diceritakan oleh Nabi Saw. banyak yang menertawakannya tidak percaya, bahkan tidak sedikit orang-orang Islam sendiri yang menjadi murtad mendengarnya.

Seandainya itu hanya mimpi, tentu tidak terjadi reaksi yang begitu menggemparkan.

Baca Selengkapnya ...

Peristiwa Isra Mi’raj

Di dalam QS. Al-Isra':1 Allah menjelaskan tentang Isra':

"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

Dan tentang Mi’raj Allah menjelaskan dalam QS. An-Najm:13-18:

"Dan sesungguhnya dia (Nabi Muhammad SAW) telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, di Sidratul Muntaha. Di dekat (Sidratul Muntaha) ada syurga tempat tinggal. (Dia melihat Jibril) ketika Sidratul Muntaha diliputi oleh suatu selubung. Penglihatannya tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."


Sidratul muntaha secara harfiah berarti 'tumbuhan sidrah yang tak terlampaui', suatu perlambang batas yang tak seorang manusia atau makhluk lainnya bisa mengetahui lebih jauh lagi. Hanya Allah yang tahu hal-hal yang lebih jauh dari batas itu. Sedikit sekali penjelasan dalam Al-Qur'an dan hadits yang menerangkan apa, di mana, dan bagaimana Sidratul Muntaha itu.

Kejadian-kejadian sekitar Isra’ dan mi'raj dijelaskan di dalam hadits - hadits nabi. Berikut rangkaian kisah Isra’ dan Mi’raj Rasulullah SAW ( dikumpulkan dari berbagai sumber )


Suatu malam datanglah malaikat Jibril, seraya berkata : “Hai Muhammad berdirilah”. Maka sayapun berdiri, kiranya Jibril bersama dengan Mikail. Kata Jibril kepada Mikail “Berikanlah kepada saya sebuah bejana penuh dengan air zamzam, karena saya akan membersihkan hati Muhammad dan melapangkan dadanya.

Maka Jibril membedah perut saya dan mencucinya tiga kali dan sungguh Mikail telah memberikan kepada Jibril tiga bejana penuh dengan air berturut-turut, maka dia melapangkan dada saya dan mencabut bersih rasa dengki, bahkan memenuhinya dengan hikmah, ilmu dan iman dan memberikan stempel kenabian diantara dua pundak saya. Kemudian Jibril membimbing tangan saya sampai kesiraman, lau berkata kepada Mikail, “ Berikan kepadaku satu bejana air zamzam atau air telaga kautsar” dan Jibril berkata kepada saya, “Ambillah air wudhu, hai Muhammad !”.Sayapun mengambil air wudhu. Kemudian Jibril berkata :”Pergilah hai Muhammad !”, “Kemana ?”, kata saya. “Kepada Tuhanmu dan Tuhan Segala Sesuatu.”

Kemudian didatangkan buraq, 'binatang' berwarna putih yang mempunyai dua sayap untuk berjalan bagaikan kilat dan langkahnya sejauh pandangan mata. “Dia (buraq) itu milik Nabi Ibrahim as. Yang dia kendarai sewaktu berkunjung ke Baitul Haram” Kata Jibril. “Naiklah Muhammad !”, Kata Malaikat Jibril. Kemudian sayapun naik buraq. Kemudian buraqpun berjalan dan bersamanya Malaikat Jibril. “Turunlah engkau Muhammad dan kerjakan !”, kata Jibril kepada saya. Sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau dimana engkau ?” tanya Jibril. “Tidak”, jawab saya. “Engkau telah di Thaibah, dan Insya Allah engkau akan hijrah ke kota itu”.

Kemudian kamipun melanjutkan perjalanan, hingga Jibril berkata, “Turunlah Engkau Muhammad dan kerjakan ”, sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau, dimana engkau ?”, tanya Jibril. “Tidak” jawab saya. “Engkau telah di Tursina dimana Allah berbicara dengan Musa.” Kemudian perjalanan dilanjutkan, hingga Jibril berkata, “Turunlah engkau Muhammad, dan kerjakan !” sayapun turun dan mengerjakan . “Tahukah engkau, dimana engkau ?”, tanya Jibril. “Tidak” jawab saya. “Engkau telah di Baiti Lahmin/Betlehem, dimana Isa as. dilahirkan.”

Kemudian perjalanan dilanjutkan hingga sampai di Baitil Maqdis dan setelah selesai perjalanan, maka disitu saya bersama-sama Malaikat yang turun dari langit yang menyambut saya dengan gembira dan hormat dari Allah Ta’ala, seraya berkata :”Assalamu ‘alaika ya awwalu, yaa aakhiru, yaa haasyiru” (Semoga keselamatan tetap untuk engkau wahai yang pertama dan yang terakhir dan yang menghimpun). “Hai Jibril apakah maksud penghormatan / salam mereka kepada saya itu ?” tanya saya kepada Jibril. Jibrilpun menjawab, “Sesungguhnya dari sebab engkaulah yang pertama kali bumi ini menjadi ada / pecah belah dan dari sebab umat engkau, engkau sebagai penolong yang pertama kali, dan yang pertama kali pula memberikan pertolongan, dan sesungguhnya engkau itu pungkasan dari para nabi serta penghimpunanpun dengan sebab engkau dan umat engkau.”

Kemudian kamipun terus lewat sehingga sampai di pintu masjid, kemudian Malaikat Jibril menurunkan saya dari buroq. Tatkala saya masuk pintu ternyata di situ saya bersama-sama dengan para nabi dan para utusan. Merekapun bersalaman kepada saya dan menghormati saya sebagaimana penghormatannya para Malaikat. Kemudian sayapun bersama mereka. “Hai Jibril, siapakah mereka?”, tanyaku kepada Jibril. Jibrilpun menjawab, “Mereka adalah saudara saudara engkau para nabi ‘alaihimush shalaatu wassalam”.

Dalam perjalanan sebelum sampai di Baitil Maqdis, saya mendengar panggilan dari arah kanan, “Hai Muhammad pelan pelanlah !”, maka saya terus saja dan tidak menghiraukan kepada suara itu. Kemudian saya dengar pula syara dari arah kiri dan sayapun tidak berpaling kepada suara itu. Lalu saya dijumpai oleh seorang perempuan sedang dia memakai segala macam perhiasan serta melambai lambaian tangannya dan berkata, “Hai Muhammad, pelan-pelan !”, maka sayapun terus saja dan tidak berpaling kepadanya.

Setelah di Baitil Maqdis, sayapun bertanya kepada Jibril, “Hai Jibril, saya mendengar suara dari arah kanan (suara siapakah itu) ?”, “Itu adalah suara propagandis agama Yahudi, maka ketahuilah sesungguhnya kalau kamu berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang yahudi”. Kemudian sayapun bertanya, “Sayapun mendengar suara dari arah kiri, (suara siapakah itu) ?”. “Itu adalah suara provokasi agama Nasrani, maka ketahuilah sesungguhnya kalau kamu berhenti, niscaya umatmu menjadi orang-orang nasrani ; dan adapun orang perempuan yang menjumpai kamu ialah dunia ini yang telah berhias untuk kamu, maka sesungguhnya kalau sekiranya kamu berhenti, niscaya umatmu akan lebih memilih duniawi daripada akhirat.”

Kemudian Jibril membawa Nabi ke sebuah batu besar, maka mulailah Nabi dan Jibril mendakinya. “Maka disitu terdapat sebuah tangga menghubungkan ke langit, yang saya belum pernah melihatnya baik dan indahnya, dan belum pernah orang melihat sesuatu yang lebih indah dari padanya sama sekali. Dan dari tangga itu para malaikat naik. Pangkal tangga itu diatas batu Baitil Maqdis dan ujungnya sampai melekat pada langit, satu kaki tangga itu dari permata intan merah dan kaki yang satunya dari permata intan hijau, sedang anak tangganya satu tingkat dari perak dan tingkat yang lain dari zamrud dan diberi rangkaian hiasan dari permata dan intan merah. Tangga itupun dipergunakan turun oleh Malaikat Pencabut Jiwa. Kalau kamu sekalian melihat dari antaramu yang mati pandangannya menengadah ke atas, maka sesungguhnya daya penglihatannya terputus ketika melihat keindahan tangga tadi.

Kemudian perjalanan memasuki langit dunia. Di langit ini dijumpainya Nabi Adam yang dikanannya berjejer para ruh ahli surga dan di kirinya para ruh ahli neraka. Di langit ini pula melihat para malaikat yang berdzikir kepada Allah, semenjak mereka dicipta oleh Allah SWT.

Kemudian perjalanan dilanjutkan, memasuki langit kedua dijumpainya Nabi Isa dan Nabi Yahya. Di langit kedua saya melihat para malaikat beruku’ kepada Allah SWT semenjak mereka diciptakan, mereka tidak mengangkat kepala mereka.

Perjalanan dilanjutkan menuju langit ketiga bertemu Nabi Yusuf. Di langit ketiga saya melihat para malaikat bersujud kepada Allah semenjak mereka diciptkan dan merekapun tidak mengangkat kepala mereka, kecuali saat saya memberikan salam kepada mereka, dan merekapun mengangkat kepala dan membalas salam dari Rasulullah, kemudian sujud kembali sampai yaumil qiyamah.

Perjalanan diteruskan ke langit keempat, dijumpai Nabi Idris. Di langit ini, saya melihat para malaikat duduk tasyahud. Lalu saya bertemu dengan Nabi Harun di langit ke lima, di langit kelima ini saya melihat para malaikat membaca tasbih. Kemudian perjalanan di lanjutkan ke langit keenam bertemu Nabi Musa, di langit keenam ini, saya melihat para malaikat bertakbir dan bertahlil.

Kemudian perjalanan dilanjutkan menuju langit ketujuh dan berjumpa dengan Nabi Ibrahim. Di langit ini saya melihat para malaikat tunduk berserah kepada Allah, semenjak dicipta oleh Allah SWT. Di langit ke tujuh dilihatnya Baitul Ma'mur, tempat 70.000 malaikat tiap harinya, setiap malaikat hanya sekali memasukinya dan tak akan pernah masuk lagi.

Perjalanan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Dari Sidratul Muntaha didengarnya kalam-kalam ('pena'). Dari Sidratul Muntaha dilihatnya pula empat sungai, dua sungai non-fisik (bathin) di surga, dua sungai fisik (dhahir) di dunia: sungai Efrat dan sungai Nil. Lalu Jibril membawa tiga gelas berisi khamr, susu, dan madu, dipilihnya susu. Jibril pun berkomentar, "Itulah (perlambang) fitrah (kesucian) engkau dan ummat engkau." Jibril mengajak Nabi melihat surga yang indah. Inilah yang dijelaskan pula dalam Al-Qur'an surat An-Najm. Di Sidratul Muntaha itu pula Nabi melihat wujud Jibril yang sebenarnya.

Puncak dari perjalanan itu adalah diterimanya perintah wajib. Mulanya diwajibkan shalat lima puluh kali sehari-semalam. Atas saran Nabi Musa, Nabi SAW meminta keringanan dan diberinya pengurangan sepuluh- sepuluh setiap meminta. Akhirnya diwajibkan lima kali sehari semalam. Nabi enggan meminta keringanan lagi, "Saya telah meminta keringan kepada Tuhanku, kini saya rela dan menyerah." Maka Allah berfirman, "Itulah fardlu-Ku dan Aku telah meringankannya atas hamba-Ku."

Urutan kejadian sejak melihat Baitul Ma'mur sampai menerima perintah shalat tidak sama dalam beberapa hadits, mungkin menunjukkan kejadian- kajadian itu serempak dialami Nabi. Dalam kisah itu, hal yang fisik (dzhahir) dan non-fisik (bathin) bersatu dan perlambang pun terdapat di dalamnya. Nabi SAW yang pergi dengan badan fisik hingga bisa shalat di Masjidil Aqsha dan memilih susu yang ditawarkan Jibril, tetapi mengalami hal-hal non-fisik, seperti pertemuan dengan ruh para Nabi yang telah wafat jauh sebelum kelahiran Nabi SAW dan pergi sampai ke surga.

Juga ditunjukkan dua sungai non-fisik di surga dan dua sungai fisik di dunia. Dijelaskannya makna perlambang pemilihan susu oleh Nabi Muhammad SAW, dan menolak khamr atau madu. Ini benar-benar ujian keimanan, bagi orang mu'min semua kejadian itu benar diyakini terjadinya. Allah Maha Kuasa atas segalanya.

"Dan (ingatlah), ketika Kami wahyukan kepadamu:
"Sesungguhnya (ilmu) Tuhanmu meliputi segala manusia". Dan Kami tidak menjadikan pemandangan yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia...." (QS. 17:60).

"Ketika orang-orang Quraisy tak mempercayai saya (kata Nabi SAW), saya berdiri di Hijr (menjawab berbagai pertanyaan mereka). Lalu Allah menampakkan kepada saya Baitul Maqdis, saya dapatkan apa yang saya inginkan dan saya jelaskan kepada mereka tanda-tandanya, saya memperhatikannya...." (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Baca Selengkapnya ...

Kejadian Sebelum Isra' Mi'raj

Sebelum terjadinya peristiwa Isra’ Mi’raj, Rasululloh SAW mengalami tahun – tahun yang sangat memprihatinkan dan menyedihkan.

Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun. Kedua meninggalnya isteri beliau Siti Khadijjah yang sangat mensupport perjuangan beliau, bersama dalam suka maupun duka, juga sempat mengalami berbagai tekanan dari Kaum Kafir. Siti Khadijah menjadi isteri sejak beliau belum diangkat menjadi Rasul.



Ketiga meninggalnya paman beliau yang aman dicintai Abu Thalib. Seorang paman yang selalu memberikan perlindungan terhadap Rasul dari tekanan dan serangan Kaum Qurays. Kesedihan semakin mendera ketika melihat, bahwa paman yang beliau cintai meninggal “tidak dalam keadaan islam”.

Rangkaian kejadian yang menyedihkan tersebut, ada yang memaknai sebagai tercabutnya simbol harta, tahta dan wanita. Harta tergambarkan oleh “pemboikotan kaum kafir hingga kelaparan (unsur ekonomi)”, tahta tergambarkan dari “meninggalnya Abu Thalib” yang selalu melindungi Rasul dari tekanan kaum kafir Quraisy, serta wanita tergambarkan dari “meninggalnya isteri beliau Siti Khadijah”. Hal ini yang dimaknai pula sebagai “upaya hamba untuk mencabut 3 hal tersebut dari hati, tatkala akan menuju sebagai “mi’rajnya orang-orang beriman”.

Baca Selengkapnya ...

Pendahuluan

“Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya bertasbih kepada Allah siapa pun yang ada di langit dan bumi, dan burung dengan mengembangkan sayapnya. Sungguh setiap sesuatu mengetahui cara shalatnya dan cara tasbihnya masing-masing.Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang mereka kerjakan.” ( QS. An Nuur : 41 )

Beberapa waktu-waktu terakhir kita bisa bersyukur, karena telah banyak buku-buku yang beredar di masyarakat yang membahas mengenai shalat, termasuk didalamnya pelatihan shalat “khusyu’” yang diadakan oleh beberapa pihak.

Penegakkan shalat harus diawali dengan sebuah pengetahuan tentang hal – hal yang menyertainya. Karena amal sedikit dibarengi ilmu pengetahuan, adalah lebih baik daripada amal banyak penuh kebodohan, sehingga pengetahuan mendalam tentang syarat, rukun termasuk adab lahir maupun batin menjadi hal mutlak, bila ingin menapaki “perjalanan dalam shalat”.


Wudhu merupakan tahap pendahuluan dalam proses “penyucian yang agung” dengan menggunakan “air yang merupakan rahasia kehidupan dan hidup itu sendiri” laksana proses penyucian yang dilakukan Jibril kepada Rasulullah dengan menggunakan air suci “zamzam” dengan membelah dada hingga hilang segala hasud dan dengki, bahkan terisi dengan berbagai ilmu,


iman dan hikmah, sehingga bisa diperjalankan dalam “Isra’ dan Mi’raj” sebuah perjalanan spiritual yang menjadi titik balik kemenangan, setelah diterpa berbagai ujian dalam kehidupan Rasulullah beserta kaumnya pada saat itu. Proses penyucian dalam wudhu tak sekedar siraman air yang tanpa makna, namun hakikatnya melebihi dari ritualnya itu sendiri, karena wudhu yang sebenarnya merupakan proses pembersihan jiwa dari segala noda dan cela yang dilakukan oleh nafsu – nafsu dunia yang telah memperalat tangan, wajah, kepala dan kaki. Setelah terbersihkan dari segala noda baru si hamba diperbolehkan mulai memasuki halaman – halaman untuk menghadiri “pertemuan agung dari segala keagungan bahkan jauh – jauh melebihi batas keagungan yang terbersit oleh fikiran dan akal manusia itu sendiri”.

Kemudian saat undangan suci “menuju kemenangan” diperdengarkan, maka sang hatipun begitu bergejolak untuk mendatanginya, sekalipun dengan “merangkak” karena begitu menggelora keinginan rindunya, untuk mendatangi pertemuan dengan Sang Kekasih. Dengan berpakaian “tawadhu” dan membuang pakaian-pakaian “kesombongan” si hambapun tertatih – tatih melangkah ke halaman “tempat pertemuan” dengan penuh kegelisahan “akan tertolaknya penghadapannya” dan rasa malu yang begitu tinggi, atas ditutupinya keburukan – keburukan perangai dan tindak lakunya, dengan pakaian “hijab malakut” oleh Sang Kekasih, sehingga orang lain tidak mengetahui kejelekannya.

Kemudian, ditengah keputusasaan dan harapan akan rakhmat dan kasih sayang yang begitu agung dari Sang Kekasih, si hamba mulai berdiri dengan lurus, menghadapkan wajahnya kepada Sang Kekasih dan menutup semua kekerdilan – kekerdilan di belakangnya, hanya satu menatap Sang Maha Agung dari Segala Keagungan Yang Ada, hingga terbukalah pintu pertama saat lisan terbata – bata berucap, “Allahu Akbar ( Allah Maha Besar )”, kemudian si hambapun melangkah dengan penuh rasa malu, dan tawadhu karena melihat keagungan yang belum pernah tergambarkan oleh dirinya.

Iapun terus menerus memuji – muji Sang Kekasih, karena telah memberi “perkenan-Nya” untuk masuk, karena sesungguhnya “tanpa perkenan-Nya” ia termasuk golongan setan yang terkutuk. Iapun tersungkur jatuh tak tersadarkan diri, karena begitu ngeri yang tanpa batas melihat kengerian di hari “yaumid diin”, kemudian Sang Kekasihpun melimpahkan “limpahan rakhmat-Nya” hingga si hamba diberi kemampuan untuk memohon supaya digolongkan ke dalam “orang-orang yang beruntung dan bukan golongan orang – orang yang sesat”

Demikianlah, si hamba terus melangkah dan melangkah sampai “mendengar dan menyaksikan” semua sujud dan tasbihnya semua makhluk di langit dan bumi hingga iapun terjatuh dan terjatuh lagi karena tidak sanggup melihat keagungan dan keluasan yang ia saksikan.

Ini adalah sekelumit lintasan yang tergambar melalui tulisan ini, dan sebenarnya tulisan inipun tidak akan menampung begitu maha luas dan mendalamnya “keindahan perjalanan dalam shalat”. Yang tertulis disinipun hanya kata dan ungkapan dari penulis, karena saya sendiripun belum sampai pada tahap anugerah seperti itu. Namun ingatlah, bahwa perjalanan itu sungguh bukan merupakan perjalanan yang mudah, mutlak dibutuhkan bimbingan “sang mursyid mukammil” untuk bisa berjalan dengan benar,karena godaan di kiri kanan perjalanan itu sendiri banyak jumlah dan variasinya.

“Ya Allah jauhkan dari diri kami sum’ah dan mahbubiyyah, jadikanlah akhir segala urusan kami sebagai kebaikan.”. Amiin.

Baca Selengkapnya ...

Taubat

Kata Al Faqih Abu Laits Samarqandy, dari Abdullah bin ‘Ubaid : Nabi Adam as. Berkata : Ya Allah, Engkau menangkan Iblis, sehingga tiada kekuatan bagiku menghadapinya, kecuali dengan pertolonganMu, JawabNya : Setiap anak cucumu (manusia ) lahir pasti Kuperintahkan petugas yang memelihara dari tipu daya iblis, dan para jin yang jahat. Nabi Adam berkata : Ya Allah, tambahkanlah bagiku, JawabNya : Setiap kebaikan dibalas 10, dan mungkin ditambah lagi sedangkan keburukan hanya dibalas satu, dan mungkin dilenyapkan, Katanya : Ya Allah, tambahkanlah bagimu, Jawabnya Taubat selalu diterima, selama masih hidup katanya : Ya Allah tambahkanlah bagiku, JawabNya :“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Az Zumar : 53)



Kata Al Faqih Abu Laits Samarqandy dari perawi yang kuat dengan sanadnya dari Ibnu “Abbas ra. Katanya : Wahsyi yang membunuh paman Nabi (shahabat Hamzah), dia kirim surat dari Mekkah untuk Rasul saw. Isinya : “Bahwasannya aku tertarik masuk Islam, tatapi keberatanku hanya karena ayat Al Qur’an sebagai berikut :

“dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya)” (Al Furqan : 68)

Lalu turun ayat berikutnya :
“ kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”( Al Furqan : 70)

Kemudian ayat tersebut disampaikan kepada Wahsyi, dan jawabannya : “Ayat tersebut membutuhkan syarat, harus beramal shaleh, padahal aku tidak mengerti, bisa atau tidaknya aku beramal shaleh”.Lalu turunlah ayat :
“ Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An Nisaa : 116)

Lalu ayat tersebut disampaikan kepada Wahsyi, dan jawabannya :”Ayat tersebut membutuhkan syarat, padahal aku tidak tahu persis, Allah akan mengampuni dosaku atau tidak”. Dan turunlah ayat berikutnya :

“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Az Zumar : 53)

Dan ayat tersebut disampaikan lagi kepada Wahsyi, ia merasa lega dengan turunnya ayat ini, karena tiada satupun syarat yang memberatkan dirinya, dan akhirnya ia menuju Madinah untuk menyatakan keIslamnnya dihadapan Rasul Muhammad saw.

Al Faqih Abu Laits Samarqandy dari Abdullah bin Sufyan katanya : Muhammad bin Abdurrahman As Sulami menyampaikan tulisan kepadaku, katanya pula : dari Ayahnya :”Kami bersama shahabat lainnya duduk-duduk dengan Nabi saw di Madinah :”Kemudian seseorang dari mereka ada yang menanyakan :”Aku mendengar Rasul saw bersabda :”Barangsiapa bertaubat kira-kira setengah hari menjelang matinya, pasti diterima taubatnya. Lalu sahutku meyakinkannya, jawabnya :”Ya, bahkan yang lain menyahut : Aku dengar beliau saw. Bersabda : ”Barangsiapa bertaubat kira-kira sesaat menjelang matinya, pasti diterima taubatnya. Dan ada lagi yang menyahut : ”Aku dengar beliau saw. bersabda :”Barangsiapa bertaubat sebelum nyawa sampai tenggorokan, pasti diterima taubatnya” (Al Hadits).

Sumber : Tanbihul Ghafilin

Baca Selengkapnya ...

Keberatan Maut dan Kengeriannya

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Anas bin Malik r.a. berkata bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Maan ahabba liqaa Allah, anabballahu liqaa'ahu wamam karina liqaa Allahi karihallahu liqq'ahu bermaksud: Siapa yang suka bertemu kepada Allah, maka Allah suka menerimanya dan siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah, Allah juga tidak suka menerimanya.

Seseorang mukmin bila dalam sakaratul maut, mendapat khabar gembira bahawa ia diridhoi Allah s.w.t. dan akan mendapat syurga, maka ia lebih suka segera mati daripada terus hidup, maka Allah s.w.t. menyambutnya dengan limpahan kurnia rahmatNya dan sebaliknya orang kafir ketika melihat siksa Allah s.w.t. yang akan diterimanya, ia akan menangis dan enggan (tidak suka) mati dan Allah s.w.t. juga menjauhkannya dari rahmat dan akan menyiksanya.


Sufyan Atstsauri berkata: "Hadis ini tidak bererti bahawa kesukaan mereka untuk bertemu kepada Allah s.w.t. itu yang menyebabkan Allah s.w.t. kasih kepada mereka, bahkan bererti kesukaan mereka untuk bertemu dengan Allah s.w.t. kerana Allah s.w.t. kasih kepada mereka. Sebagaimana ayat Yuhibbuhum wayuhibbunahu (yang bermaksud) Allah kasih kepada mereka, maka mereka cinta kepada Allah juga. Juga didalam hadis: Idza ahabballahu abdan syagholahu bihi (yang bermaksud) Jika Allah kasih kepada seorang hamba, maka disibukkan dengan dzikir dan selalu ingat kepadanya."
Ketika Rasulullah s.a.w. menyatakan bahawa siapa yang tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. tidak suka bertemu kepadanya. Sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kita semua tidak suka mati." Jawab Rasulullah s.a.w. "Bukan itu, tetapi seorang mukmin bila akan mati datang Malaikat yang membawa khabar gembira kepadanya apa yang dijanjikan oleh Allah s.w.t. sebaliknya orang kafir jika akan mati datang Malaikat yang mengancamnya dengan siksaan Allah s.w.t., yang akan dihadapi sehingga ia tidak suka bertemu kepada Allah s.w.t."

Abul-Laits dengan sanadnya dari Jabir r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Hadditsu an Bani Isra'il wala haraj, fa innahum qaumun qad kaana fahimul a'aajib (yang bermaksud) Kami boleh bercerita tentang bani Isra'il, dan tidak ada dosa, kerana pada mereka telah terjadi berita-berita yang aneh-aneh (ganjil-ganjil).
Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. menceritakan: Terjadi serombongan Bani Isra'il keluar sehingga sampai diperkuburan, lalu mereka berkata: "Andaikata kita sembahyang disini kemudian berdoa kepada Tuhan supaya keluar salah seprang yang telah mati disini lalu menerangkan kepada kami bagaimana soal mati, maka sembahyanglah mereka kemudian berdoa, tiba-tiba ada orang telah menonjolkan kepalanya dari kuburan berupa hitam, lalu bertanya: "Hai kaum, apakah maksudmu, demi Allah saya telah mati sejak sembilan puluh tahun yang lalu, maka hingga kini belum hilang juga rasa pedihnya mati kerana itu berdoalah kamu kepada Allah untuk mengembalikan aku sebagaimana tadi, padahal orang itu diantara kedua matanya ada tanda bekas sujud."

Abul-Laits berkata: "Siapa yang yakin akan mati maka seharusnya bersiap sedia menghadapinya dengan melakukan amal yang soleh (baik) dan meninggalkan amal kejahatan (dosa), sebab ia tidak mengetahui bilakah datangnya mati itu kepadanya, sedang Nabi Muhammad s.a.w. telah menerangkan pada umatnya supaya mereka benar-benar bersiap-siap untuk menghadapinya dan supaya mereka sanggup sabar dan tabah menghadapi penderitaan dunia, sebab penderitaan dunia ini jauh lebih ringan dibandingkan dengan siksaan akhirat sedang maut itu termasuk dari siksaan akhirat."

Abdullah bin Miswar Al-Hasyimi berkata: "Seorang datang kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan berkata: "Saya datang kepadamu supaya kau ajarkan kepadaku ilmu-ilmu yang ganjil." Ditanya oleh Nabi Muhammad s.a.w.: "Kau telah berbuat apa terhadap pokok ilmu? Orang itu bertanya: "Apakah itu pokok ilmu?" Nabi Muhammad s.a.w. bertanya: "Apakah kau telah mengenal Tuhan Azzawajalla.? Jawabnya: "Ya." Nabi Muhammad s.a.w. bertanya lagi: "Maka apakah yang telah kau kerjakan pada haknya?" Jawabnya: "Masyaallah. (Yakni apa yang dapat dikerjakan). Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Laksanakan itu sebenar-benarnya, kemudian kamu kembali untuk saya ajarkan kepadamu ilmu yang ganjil-ganjil." Kemudian setelah beberapa tahun ia datang kembali maka Nabi Muhammad s.a.w. bersabda kepadanya: "Letakkan tanganmu didadamu (hati), maka apa yang kau tidak suka untuk dirimu, jangan kau lakukan terhadap saudaramu sesama muslim, dan yang kau suka untuk dirimu, lakukanlah sedemikian terhadap saudaramu sesama muslim, dan ini termasuk dari ghoro ibul ilmi (ilmu yang ganjil-ganjil)." Nabi Muhammad s.a.w. menjelaskan bahawa persiapan untuk maut itu termasuk pokok dari ilmu, kerana itu harus diutamakan sebelum lain-lainnya.

Abdullah bin Miswar berkata bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. membaca ayat yang berbunyi: Faman yaridillah an yahdiyahu yasy-rah shadrahu lil islam, waman yurid an yudhillahu yaj'al shadrahu dhayyigan harajan, ka' annama yash-sh'adu fissamaa'i. (yang bermaksud) Maka siapa yang dikehendaki mendapat hidayat, dilapangkan dadanya untuk menerima Islam, dan siapa yang dikehendaki oleh Allah kesesatan maka menjadikan dadanya sempit sukar, bagaikan akan naik kelangit. Kemudian Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Nur Islam jika masuk kedalam hati maka lapanglah dada." Nabi Muhammad s.a.w. lau ditanya: "Apakah ada tandanya?" Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: "Ya, menjauh dari tempat-tempat tipuan dan condong pada tempat yang kekal dan bersiap-siap menghadapi maut sebelum tibanya."

Ja'far bin Barqaan dari Maimun bin Mahran berkata bahawasanya Nabi Muhammad s.a.w. ketika menasihati seseorang bersabda yang bermaksud: "Pergunakanlah lima sebelum tibanya lima, Mudamu sebelum tu amu, sihat mu sebelum sakit mu, longgar mu (kelapangan) sebelum sibuk mu, kaya mu sebelum kekurangan mu (miskin) dan hidup mu sebelum mati mu."

Dalam pelajaran ini Nabi Muhammad s.a.w. telah menghimpunkan ilmu yang banyak, sebab seseorang dewasa akan dapat berbuat apa yang tidak dapat dilakukan sesudah tua, pemuda jika biasa berbuat dosa, sukar baginya menghentikannya jika telah tua, maka seharusnya seorang pemuda membiasakan dirinya berbuat baik dimasa muda supaya ringan baginya melakukannya apabila telah tua. Demikian pula ketika sehat sebelum sakit, seharusnya masa sehat itu digunakan untuk lebih rajin berbuat amal soleh, sebab jika telah sakit pasti lemah badannya dan kurang kekuasaan dalam mempergunakan harta kekayaannya. Demikian dimasa luang sebelum sibuk, yakni diwaktu malam yang lapang, sedang diwaktu siang sibuk, kerana itu hendaklah sembahyang malam dan puasa siang terutama dimusim dingin sebagaimana sabda Nabi Muhammad s.a.w. : "Musim dingin itu keutungan bagi seorang mukmin, panjang malamnya maka digunakan untuk sembahyang, dan pendek siangnya maka digunakan puasa."

Dalam lain riwayat: "Malam itu panjang maka jangan kau singkat dengan tidurmu, dan siang itu terang maka jangan kau gelapkan dengan dosa-dosamu." Demikian pula gunakan kesempatan masa kaya dan cukup sebelum masa berkurang dan miskin, yakni dimasa kau masih merasa serba kecukupan dan tidak berhajat kepada apa yang ditangan orang. Dan terutama masa hidup sebelum mati, sebab tiap detik dari hidupmu itu sebagai permata yang sangat besar harganya bila kau gunakan benar-benar untuk kesejahteraan dunia dan akhiratmu.

Ada peribahasa Persia yang demikian ertinya: Jika kau masih kecil bermain bersama anak-anak kecil dan bila telah remaja lupa kerana banyak hiburan, lalu bila tua lemah dan tidak kuat, maka bilakah akan beramal untuk Allah s.w.t, sebab bila telah mati tidak akan dapat berbuat apa-apa bahkan semua amal perbuatan telah terhenti, kerana itu harus kau gunakan benar-benar masa hidup untuk segala sesuatu yang akan membawa keselamatan dunia akhirat, dan bersiap-siap menghadapi maut yang sewaktu-waktu akan tiba kepadamu.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. melihat Malaikat Maut didekat kepala seorang sahabat Anshar, maka Nabi Muhammad s.a.w. berkata kepadanya: "Kasihanilah sahabatku kerana ia seorang mukmin." Jawab Malaikat Maut: "Terimalah khabar baik hai Muhammad, bahawa aku terhadap tiap mukmin sangat belas kasihan, demi Allah, ya Muhammad, aku mencabut roh seorang anak Adam, maka bila ada orang menjerit dari keluarganya, aku katakan: "Mengapa menjerit, demi Allah kami tidak berbuat aniaya dan tidak mendahului ajalnya, maka kami tidak ada salah dalam mencabut rohnya, maka bila kamu rela dengan hukum Allah kamu mendapat pahala, dan jika kamu murka dan mengeluh kamu berdosa, dan kamu usah mencela kami, sebab masih akan kembali maka berhati-hatilah kamu. Dan tiada penduduk rumah batu atau bambu, kain bulu didarat atau laut melainkan aku perhatikan wajahnya tiap kali lima kali, demi Allah ya Muhammad andaikan aku akan mencabut roh nyamuk tiada dapat kecuali bila mendapat perintah dari Allah s.w.t. untuk mencabutnya."

Abu Said Alkhudri r.a. berkata bahawa Nabi Muhammad s.a.w. melihat orang-orang yang tertawa maka Baginda s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Andaikan kamu banyak ingat mati yang menghapuskan kelazatan, nescaya kamu tidak sempat sedemikian." "Sesungguhnya kubur itu adakalanya sebagai kebun dari kebun-kebun syurga atau salah satu jurang neraka."

Umar r.a. berkata kepada Ka'ab: "Terangkanlah kepada kami tentang maut." Ka'ab berkata: "Maut itu bagaikan pohon berduri dimasukkan kedalam tubuh anak Adam, maka tiap duri berkait dengan urat, lalu dicabut oleh seorang yang kuat sehingga dapat memutuskan apa yang terputus, dan meninggalkan apa yang masih tinggal."
Sufyan Atstsauri jika ingat mati, maka ia tidak berbuat apa-apa sampai beberapa hari, bahkan jika ditanya masalahnya, ia hanya menjawab: "Tidak tahu." Seorang hahim berkata: "Tiga macam yang tidak layak dilupakan oleh seorang yang sihat akalnya iaitu rosaknya dunia dan perubahan-perubahannya, dan maut, dan kerosakan-kerosakan apa yang didunia, yang tidak dapat dielakkan."

Hatim al-Asham berkata: "Empat macam yang tidak dapat menilai dan merasakannya kecuali empat iaitu HARGA (NILAI) KEPEMUDAAN tidak diketahui kecuali oleh orang yang telah tua, HARGA KESIHATAN tidak diketahui benar-benar oleh orang kecuali oleh orang-orang yang sakit, HARGA KESELAMATAN tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang kena bala dan HARGA NILAI HIDUP tidak diketahui benar-benar kecuali oleh orang-orang yang telah mati."
Abul-Laits berkata: "Keterangan ini sesuai dengan hadis yang tersebut iaitu: Jagalah lima sebelum tibanya lima lawannya."

Abdullah bin Amr bin Al-Ash berkata: "Ayahku sering berkata: "Saya hairan kepada orang yang sihat akal dan lidahnya ketika dihinggapi maut mengapa tidak suka menerangkan sifat maut itu." Kemudian ia dalam sakaratul maut itu sedang masih sedar akalnya saya berkata kepadanya: "Ayah, kau dahulu hairan terhadap orang yang sihat akal dan lidahnya mengapa tidak menceritakan tentang hal maut?" Jawab Amr: "Anakku, maut itu sangat ngeri dan dahsyat, tidak dapat disifatkan tetapi saya akan menrangkan sedikit kepadamu, demi Allah s.w.t., ia bagaikan bukit Radhwa diatas bahuku, sedang rohku seakan-akan keluar dari lubang jarum, sedang dalam tubuhku seplah-olah ada pohon berduri, sedang langit seakan-akan telah rapat dengan bumi sedang saya ditengah-tengahnya. Hai puteraku, sebenarnya aku telah mengalami tiga masa, pertama saya kafir dan berusaha benar untuk membunuh Nabi Muhammad s.a.w., maka alangkah celaka diriku sekiranya aku mati pada masa itu. Kkedua, kemudian aku mendapat hidayat sehingga masuk Islam dan sangat cinta pada Nabi Muhammad s.a.w. sehingga saya selalu diangkat menjadi pemimpin pasukan yang dikirimnya, alangkah bahagianya sekiranya saya mati ketika itu, nescaya saya akan mendapat berdoa restu Nabi Muhammad s.a.w., kemudian ketiga, kami sibuk dengan urusan dunia, kerana itu saya tidak ketahui bagaimana keadaanku disisi Allah s.w.t." Abdullah berkata: Maka saya tidak bangun dari tempatnya sehingga mati disaat itu. Rahimahullah."

Syaqiq bin Ibrahim berkata: "Orang-orang sependapat dengan aku dalam empat macam tetapi perbuatan mereka berlawanan. Pendapat aku yang pertama mereka mengaku hamba Allah tetapi berbuat seperti orang yang merdeka bebas, mereka mengaku Allah s.w.t. menjamin rezeki tetapi hati tidak tenang bila tidak ada kekayaan ditangan mereka, mereka mengaku akhirat lebih baik dari dunia tetapi mereka hanya mengumpulkan harta untuk dunia semata-mata dan mereka mengaku pasti mereka akan mati tetapi berbuat seperti orang yang tidak akan

Abud-Dardaa atau Salman Alfarisi atau Abu Dzar r.a. berkata: "Tiga macam mengkagumkan aku sehingga aku tertawa, dan tiga yang menyedihkan aku hingga aku menangis, adapun yang mentertawakan aku ialah, orang yang panjang angan-angan hidup padahal ia dikejar oleh maut, dan sama sekali tidak memikirkan akan mati, orang yang lupa terhadap maut padahal maut tidak lupa padanya dan orang yang tertawa padahal ia belum mengetahui apakah Allah s.w.t. ridha padanya ataupun murka. Adapun yang menangiskan aku ialah berpisah dengan sahabat-sahabat Nabi Muhammad s.a.w. dan kawan-kawannya, memikirkan dahsyatnya maut bila tiba saatnya dan memikirkan kelak bila berhadapan kepada Allah s.w.t., akan diperintahkan kemana aku ini, apakah ke syurga atau keneraka."

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang bermaksud: "Andaikan binatang-binatang itu mengetahui tentang mati sebagaimana yang kamu ketahui nescaya kamu tidak dapat makan daging binatang yang gemuk selamanya."

Abu Hamid Allafaf berkata: "Siapa yang sering ingat mati, maka dimuliakan dengan tiga macam iaitu segera bertaubat dan terima terhadap rezeki (tidak tamak) dan tangkas beribadat. Sedangkan yang selalu lupa akan mati, terkena akibat tiga macam juga iaitu menunda-nunda taubat, tamak dalam rezeki dan malas beribadat."
Nabi Isa a.s. biasa menghidupkan orang mati, maka ditegur oleh orang kafir dengan berkata: "Kau hanya dapat menghidupkan orang yang baru mati, kemungkinan belum mati benar orang itu, maka cuba hidupkan orang yang dulu-dulu itu." Nabi Isa a.s. pun berkata: "Kamu pilih sendiri siapa yang kamu minta saya hidupkan." Mereka berkata: "Hidupkan Sam bin Nuh a.s.." Lalu nabi Isa a.s. pergi kekuburnya dan disana didirikan sembahyang dua raka'at dan berdoa kepada Allah s.w.t. maka Allah s.w.t. menghidupkan Sam bin Nuh a.s. dalam keadaan rambut dan janggutnya telah putih, maka ditanya oleh Nabi Isa a.s.: "Mengapa kamu berubah padahal pada waktu kamu mati dahulu belum ada uban?" Jawab Sam bin Nuh a.s.: " Ketika aku dengar panggilan untuk keluar aku kira hari kiamat kerana itu rambutku langsung menjadi putih kerana ketakutan." Lalu ditanya lagi: :Berapa lama kamu matu?" Jawab Sam: "Sejak empat ribu tahun yang lalu dan belum hilang rasa pedihnya maut!"

Tiada seorang mukmin mati melainkan ditawarkan kepadanya kembali hidup didunia, tetapi ia menolak kerana beratnya sakaratul maut, kecuali orang yang mati syahid, mereka tetap ingin hidup kembali didunia untuk berperang dan mati syadih lagi, sebab mereka tidak merasakan sakitnya sakaratul maut, juga kerana merasakan kebesaran kehormatan orang yang mati syahid disisi Allah s.w.t.
Ibrahim bin Ad'ham ketika ditanya: "Mengapakah kau tidak mengajar?" Jawabnya: "Saya masih sibuk dengan empat macam, bila selesai urusan empat macam itu saya dapat mengajar." Ditanya lagi: "Apakah yang empat macam itu?" Jawabnya: "Saya sedang memikirkan yaumul mistaq ketika Allah s.w.t. menentukan Anak Adam. Mereka ini untuk syurga dan mereka ini untuk neraka, saya tidak mengetahui termasuk golongan yang mana satu. Saya juga memikirkan kejadian manusia ketika diperut ibunya ketika akan diberi roh dan Malaikat disuruh mencatat untung atau celaka, sayapun tidak mengetahui dari golongan manakah saya, saya juga memikirkan nanti dimasa malakulmaut datang kepadaku lalu bertanya kepada Allah s.w.t.: Apakah roh orang ini digolongkan orang muslimin atau bersama orang kafir, sayapun belum mengetahui bagaimana jawab Allah s.w.t. kepada malaikat itu dan yang terakhir saya memikirkan tentang ayat yang berbunyi Wan tazul yauma ayyuhal mujrimum. (Yang bermaksud) Berpisahlah kamu hari ini hai orang yang derhaka. Saya belum mengetahui dalam golongan manakah saya ini."

Abul-Laits berkata: "Sungguh untung orang -orang yang diberi Allah s.w.t. pengertian dan disedarkan dari kelalaian, dan dipimpin sehingga berfikir bagaimana akhirnya mati. Semoga Allah s.w.t. menjadikan penghabisan umur kami dalam kebaikan, serta mendapat khabar gembira, sebab orang mukmin pasti mendapat khabar gembira ketika maut, iaitu dalam ayat Innal ladziina qaalu robbunallahu tsummas taqaamu tatanazzalu alaihimul malaikatu alla takhaafu wala tahzannu, wa absyiru biljannatillati kuntum tuu'adun. Nahnu auliyaa'akum fil hayaatiddunya wafil akhiroti. (Yang bermaksud) Sesungguhnya orang-orang yang beriman, percaya benar-benar kepada Allah dan Rasullullah, kemudian tetap istiqomah dalam menunaikan kewajipan dan meninggalkan larangan istiqamah dalam kata dan perbuatannya mengikuti benar-benar sunnatur Rasul, maka akan datang kepadanya Malaikat menyampaikan khabar gembira. kamu jangan takut dan jangan susah, dan bergibaranlah kamu akan mendapat syurga yang dijanjikan, kepadamu. Sebagaimana diterangkan oleh Nabi Muhammad s.a.w.

Khabar gembira itu terdapat dalam lima bentuk:
1. Untuk orang awam yang mukmin diberitahu: Jangan takut, kamu tidak akan kekal dalam neraka bahkan kamu tetap akan mendapat syafaat para Nabi-nabi dan orang-orang solihin, dan jangan sedih atau berduka atas kekurangan pahala dan kamu pasti masuk syurga.
2. Untuk orang yang ikhlas: Kamu jangan khuatir, kerana amalmu telah diterima, dan jangan sedih terhadap kekurangannya pahala, kerana kamu pasti mendapat pahala berlipat ganda.
3. Untuk orang-orang yang bertaubat: Kamu jangan khuatir terhadap dosa-dosamu, maka semua sudah diampuni, dan jangan sedih terhadap pahala, pasti kamu dapatkan atas amalmu sesudah taubat.
4. Untuk orang-orang yang zahid. Kamu jangan khuatir mahsyar atau hisab, dan jangan berduka sebab akan dikurangi pahalamu yang berlipat-lipat ganda itu, dan terimalah khabar gembira bahawa kamu akan masuk syurga tanpa hisab.
5. Untuk ulama yang mengajarkan kebaikan pada manusia. Kamu jangan takut dari dahsyat hari kiamat, dan jangan berduka sebab Allah s.w.t. akan membalas amalmu dengan syurga, juga orang-orang yang mengikuti jejakmu.

Dan sungguh untung orang yang mendapat berita gembira pada ketika matinya, sebab berita gembira hanya untuk orang mukmin yang baik amal perbuatannya maka turunlah Malaikat kepadanya lalu bertanya: "Siapakah kamu, kami tidak melihat muka yang lebih elok dari kamu dan yang lebih harum dari baumu?" Jawab Malaikat: "Kamu dahulu kawanku yang mencatat amalmu ketika didunia, dan kami juga menjadi kawanmu diakhirat."
Maka seharusnya bagi orang yang berakal sedar dari kelalaiannya, dan tanda kesedaran itu ada empat iaitu:
 Mengatur urusan dunia dengan tenang dan merasa masih banyak waktu.
 Memerhatikan urusan akhirat dengan cermat dan sungguh kerana merasa waktunya mendesak dan tidak dapat ditunda.
 Mengatur urusan agama dengan rajin-rajin mencari ilmunya.
 Bergaul dengan sesama makhluk dengan saling nasihat dan sabar, dan yang paling utama ialah orang yang mempunyai lima sifat iaitu:
1. Tekun beribadat kepada Tuhan
2. Sangat berguna terhadap sesama manusia
3. Semua orang merasa aman dari gangguan
4. Tidak iri terhadap orang lain
5. Selalu bersiap untuk menghadapi maut.
Ketahuilah saudara bahawa kami dijadikan untuk mati, dan tidak dapat lari daripadanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Innaka mayyitun mainnahum mayyitun Engkau akan mati dan mereka juga akan mati. Dan Firman Allah s.w.t. Qul lan yanta'akumul firaaru in farartum minal mauti awil qatli katakanlah: (Yang bermaksud) Tidak akan berguna bagimu lari menghindari maut, jika kamu lari dari maut atau perang, kerana demikian keadaannya maka kewajipan seorang muslim harus siap-siap benar untuk maut sebelum tibanya. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: Walan yatamannauhu abada in kuntum shadiqin (Yang bermaksud) Inginkanlah mati jika kau benar-benar dalam imanmu.Firman Allah s.w.t. lagi Walan yatamannauhu abada bima qoddammat aidihim.(Yang bermaksud) Dan mereka tidak akan ingin mati kerana mengetahui amal kejahatan dirinya.

Dalam kedua ayat ini maka nyatalah Allah s.w.t. menjelaskan bahawa seseorang yang benar-benar beriman dan ikhlas kepada Allah s.w.t. tidak gentar akan mati bahkan rindu kepada kematian untuk segera bertemu dengan Allah s.w.t. dan sebaliknya orang munafik, ia akan lari kerana merasakan amal perbuatannya sangat sedikit.
Abud-Dardaa r.a. berkata: "Saya suka kepada kemiskinan kerana itu sebagai tawadhu' merendah diri kepada Tuhanku, dan aku suka penyakit sebab itu sebagai penebus dosa, dan aku suka kepada kematian kerana rindu kepada Tuhanku."

Abdullah bin Mas'uud r.a. berkata: "Tiada seorang yang hidup melainkan mati itu lebih baik baginya, jika ia baik, maka firman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Wama indallahi khoirun lil abrar (Yang bermaksud) Apa yang disediakan oleh Allah lebih baik bagi orang yang bakti taat. Dan bila ia derhaka, maka friman Allah s.w.t. (Yang berbunyi) Inamma numli lahum liyazdadu itsma walahum adzabun muhim. (Yang bermaksud) Sesungguhnya Kami membiarkan mereka supaya bertambah dosa, dan untuk mereka bersedia siksa yang sangat hina.

Anas r.a. berkata: "Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: "Almautu rahitul mu'min (Yang bermaksud) "Mati itu bagaikan kenderaan seorang mukmin. Ibn Mas'ud r.a. berkata: Nabi Muhammad s.w.t. ditanya: "Siapakah mukmin yang utama dan yang manakah yang terkaya?" Rasullullah s.a.w. menjawab: "Yang terbaik budi akhlaknya, dan mukmin yang terkaya ialah yang banyak ingat mati dan baik persediaannya."
Nabi Muhammassd s.a.w bersabda yang bermaksud: "Orang yang sempurna akal ialah yang selalu memeriksa dirinya dan beramal untuk bekal sesudah mati. Sedang yang bodoh ialah yang selalu menurutkan hawa nafsunya, dan mengharapkan pengampunan Allah."(Yakni tanpa amal).

Sumber : Tanbighul Ghafilin

Baca Selengkapnya ...